Pentingnya Edukasi Kental Manis Bukan Susu Pada Masyarakat Oleh Bidan

Masyarakat sejak lama mengenal kental manis itu sebagai susu. Ayo siapa yang dulu mengiranya begitu juga? Untuk itulah perlu diadakan edukasi yang menyatakan bahwa kental manis bukan susu pada masyarakat oleh berbagai pihak termasuk oleh para bidan.

Kental Manis Bukan Susu




Kenapa peranan bidan ini penting dalam mengedukasi masyarakat? Nah, jawabannya akan saya jabarkan dalam postingan kali ini. Informasi saya dapatkan setelah menghadiri  Webinar YAICI dan IBI Cabang Kota Tangerang Selatan dalam memperingati Hari Kartini yang mengambil tema "PEran Bidan dalam Pemenuhan Nutrisi Bayi dan Balita yang bebas dari Susu Kaleng".

Pada webinar yang diadakan melalui aplikasi zoom tersebut dihadiri secara virtual oleh Hj. Eni Rohaeni (Ketua IBI Cabang Kita Tangerang Selatan), Lilis Suryani (Kepada Biang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Tangerang Selatan), dan Arif Hidayat (Ketua Harian YAICI serta Kang Maman Suherman sebagai moderator



Persepsi Masyarakat Yang Masih Salah Tentang Kental Manis





Berdasarkan survey yang dilakukan oleh YAICI hingga saat ini faktanya masih ada balita yang diberikan kental manis sebagai susu. Dalam sehari mereka bisa menghabiskan 1 sampai 3 gelas susu.

Hal tersebut mengacu pada iklan yang dilihat atau didengar oleh masyarakat. Selama ini iklan mempunyai peranan yang besar dalam membentuk persepsi masyarakat mengenai susu kental manis. Namun saat ini BPOM sudah melarang produsen kental manis yang menginformasikan atau menulis bahwa produk tersebut adalah susu.

Persepsi lain yang ditemukan berdasarkan survey adalah adanya edukasi yang salah dari tenaga kesehatan pada garda yang berhubungan langsung dengan masyarakat seperti di posyandu. 

Maka dari itu diperlukan peranan besar dari para bidan untuk mengedukasi masyarakat menengah ke bawah termasuk melalui posyandu dalam memberikan informasi yang benar terutama mengenai pemenuhan nutrisi bayi dan balita agar terbebas dari susu kaleng.


Dampak Kental Manis Pada Tumbuh Kembang Anak


Para ahli juga menyatakan bahwa kental manis atau biasa yang disebut dengan SKM bukanlah susu melainkan hanya minuman yang terbuat dari gula dan tambahan susu saja.

Beberapa fakta tentang kental manis bukan susu antara lain:
  • Mengandung gula sebesar 40-50 persen
  • Konsumsi rutin dalam waktu lama berisiko anak mengalami obesitas dan diabetes
  • Nutrisinya yang terkandung juga kurang
  • Kandungan gula yang berlebihan dapat merusak gigi

Dari fakta-fakta tersebut keluarlah larangan BPOM yang melarang menampilkan anak-anak balita pada iklan kental manis. Pelarangan visualisasi yang menyatakan kental manis ini sebagai susu serta tidak diperbolehkannya penyajian kental manis dalam gelas. Jam tayang kental manis ini juga sudah ada ada aturannya untuk tidak tayang pada acara anak-anak.

Jika dari kecil sudah terbiasa mengonsumsi kental manis sebagai susu, maka kebutuhan nutrisinya pun tidak terpenuhi dengan maksimal dan bisa mengakibatkan stunting serta berdampak pada tumbuh kembang si kecil.



Peranan Bidan Sebagai Garda Terdepan di Masyarakat





Karena bidan sebagai tenaga kesehatan yang dekat dengan masyarakat, untuk itu pada webinar pun mengundang bidan dari berbagai daerah untuk menghadiri acara tersebut.

Tujuan dari acara tersebut adalah agar bidan sebagai garda terdepan dapat berperan besar dalam memberikan edukasi dalam hal pemenuhan nutrisi pada ibu, bayi, dan balita. Hadirnya bidan di tengah masyarakat gak hanya membantu proses persalinan saja, karena masyarakat juga masih banyak yang mengandalkan bidan dalam hal pelayanan kesehatan. Pokoknya banyak masyarakat yang menurut dan mengikuti apa yang dikatakan oleh bidan.

Untuk itu YAICI yang aktif bergerak pada program kesehatan, lingkungan, dan pendidikan bekerjasama dengan (Ikatan Bidan Indonesia) atau  IBI mengedukasi masyarakat dalam hal memberikan informasi yang benar mengenai KENTAL MANIS BUKAN SUSU melainkan hanya GULA BERAROMA SUSU.

Bidan-bidan diharapkan dapat memberikan informasi mengenai gizi seimbang pada masyarakat yaitu konsumsi pangan sehari-hari yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah sesuai dengan kebutuhan tubuh dengan memperhatikan prinsip keanekaragaman pangan, aktivitas fisik, perilaku hidup bersih, dan memantau berat badan secara teratur dalam rangka mempertahankan berat badan normal untuk mencegah masalah gizi.

Bidan juga berperan penting dalam mencegah stunting dengan memberikan edukasi tentang 1000 Hari Pertama Kelahiran (HPK) di masa ini perkembangan anak sudah dimulai.

Gak cuma tentang nutrisi di 1000 HPK saja sebenarnya untuk mencegah stunting, tetapi perlu edukasi pada remaja perempuan agar tidak kekurangan zat besi karena akan berpengaruh pada tumbuh kembang anaknya ketika hamil dan melahirkan nantinya.



Pentingnya Protein Untuk Tumbuh Kembang Anak


Protein dari susu merupakan salah satu nutrisi yang harus diperhatikan oleh orangtua untuk anak-anaknya. Pemberian ASI pastinya yang terbaik untuk bayi, namun jika ada kendala tertentu pastinya harus tetap diberikan pengganti nutrisi tersebut melalui susu formula yang terbuat dari susu sapi.

Ada berbagai jenis susu yang dapat diberikan pada anak seperti susu bubuk, susu formula, susu UHT. Tapi penting diingat bahwa tidak memberikan kental manis sebagai susu pada anak agar terhindar dari risiko stunting.

Yang perlu diperhatikan dalam tumbuh kembang anak adalah dengan memantau berat badan anak dengan melakukan kontrol pada pusat layanan kesehatan terdekat seperti bidan, posyandu atau rumah sakit. Disinilah peran bidan diharapkan bisa melihat apakah anak yang datang melakukan pemeriksaan tidak mengalami kenaikan berat badan selama dua kali berturut-turut ketika kontrol. Hal ini sebagai salah satu tanda bahwa tumbuh kembang anak terhambat apalagi jika tinggi badannya juga lebih pendek dari anak seusianya dan berisiko stunting.


Sudah tahu bukan sekarang kalau kental manis bukan susu tapi hanya gula beraroma susu. Bidan sebagai garda terdepat masyarakat dalam layanan kesehatan, kita pun dapat membantu dengan menyiarkan berita positif agar masyarakat teredukasi dengan baik.

Post a Comment

0 Comments