Powered by Blogger.

Mulai Aksi Kecil Ini Dari Diri Sendiri Untuk Jaga Laut

Setibanya saya di Pulau Leebong, Belitung mau santai-santai sambil rebahan di gazebo yang disediakan oleh pihak private island di sana. Apa daya air laut sedang pasang sehingga mengakibatkan permukaan air laut naik menutupi pinggir pantai. Butuh perjuangan menuju gazebo tersebut dengan berjalan di atas air laut sambil sesekali diterpa ombak cukup besar yang membuat saya nyaris terjatuh terkena terjangan ombak.

jaga laut

Pada foto di atas terlihat ada dua gazebo jauh di belakang saya. Mungkin kamu akan bertanya-tanya ngapain sih pihak resort di Pulau Leebong membangun gazebo di tengah laut seperti itu? Eits, jangan salah ya, gazebo tersebut dulunya dibangun di pantai tepatnya di pinggir laut di Pulau Leebong. Tapi karena permukaan air laut yang terus naik lama-lama gazebo tersebut seolah berada di tengah laut.

Kondisi air laut yang terus meningkat tidak hanya terjadi di Pulau Leebong, tapi juga di tempat lainnya. Permukaan air laut yang terus meningkat ini jika tidak diatasi maka daratan akan mengalami penyempitan, bahkan yang lebih ekstrim ada pulau yang tenggelam, mengerikan sekali.

Seperti yang kita ketahui kalau Indonesia itu memiliki geografis yang luas dengan jumlah pulaunya mencapai ribuan dan memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia. Tak heran jika Indonesia mempunyai pesona laut indah yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Sayangnya keindahan laut Indonesia ini sedang menjadi ancaman akibat aktivitas manusia yang tidak menjaga lingkungan dengan baik.

panjang garis pantai indonesia


Menurut analisis sistematis pertama di jurnal Current Biology 2018, luas lautan yang berubah karena aktivitas manusia dan hanya menyisakan 13 persen yang dibiarkan alami. Beberapa aktivitas manusia yang mempengaruhi luas laut karena adanya eksploitasi laut misalnya menangkap ikan secara berlebihan dan ilegal menggunakan alat yang tidak semestinya sehingga menyebabkan spesies ikan terancam punah. Aktivitas lainya yaitu pembakaran bahan bakar fosil dan deforestasi serta industri yang menjadi penyebab efek rumah kaca seperti polusi yang dihasilkan dari kendaraan, sampah, penggunaan lemari es dan AC, serta polusi yang dihasilkan dari pertanian dan peternakan. 

Selain eksploitasi laut, ternyata sektor pariwisata dan polusi plastik juga turut andil dalam rusaknya laut saat ini. Saya suka berwisata ke laut, termasuk beraktivitas di sana seperti snorkeling dan berenang. Seru aja melihat biota laut di bawah sana tampak takjub melihat anugerah indah seperti itu. Tapi, sayangnya banyak juga wisatawan yang datang tidak menjaga kebersihan malah menyebabkan kerusakan terumbu karang dan mengganggu habitat laut lainnya karena aktivitas mereka selama berada di laut.

Selama pandemi berlangsung ini, pemerintah menerapkan aturan baru untuk menjaga jarak dan tidak berkerumun di tempat umum termasuk tempat wisata. Pelarangan tersebut ternyata membawa efek yang positif bagi laut. Informasi tersebut saya dapatkan waktu mengikuti acara podcast Ruang Publik KBR dengan tema "Menjaga Laut di Tengah Pandemi" yang menghadirkan narasumber Githa Anathasia (Pengelola Kampung Wisata Arborek dan CEO Arborek Dive Shop Raja Ampat) dan Prof. Muhammad Zainuri (Guru Besar Bidang Kelautan Universitas Diponegoro, Semarang).

menjaga laut


Pada siarannya tersebut, Mbak Ghita mengatakan selama masa covid ini di Raja Ampat, laut sedang istirahat dan melakukan pemulihan karena tidak adanya aktivitas masyarakat di sana yang membawa dampak positif pada kondisi laut. Terumbu karang mengalami pertumbuhan yang cepat,  ekosistem ikan mengalami peningkatan jumlahnya. Sampai-sampai terlihat ikan tuna dan hiu yang sedang bermain-main ke pinggir pantai.

Sedangkan menurut Prof. Zainuri meskipun aktivitas terhenti bukan berarti tidak ada limbah sama sekali yang mengalir ke laut. Kalau biasanya laut menerima limbah industri yang banyak, kali ini limbah rumah tangga yang mengalami peningkatan malah baik untuk ekosistem laut seperti ikan sehingga tumbuh lebih besar dan berkembang biak. Beliau juga mengatakan perairan di Indonesia itu ada dua yaitu perairan nusantara dan perairan samudera. Objek wisata perairan nusantara ini yang saat ini terlihat jelas mengalami perubahan negatif dan jika dibiarkan saja pastinya akan membawa dampak yang buruk bagi kita semua.

Dampak Negatif Kenaikan Permukaan Air Laut 

Perilaku kurang baik yang dilakukan oleh aktivitas manusia berhubungan dengan perubahan iklim yang sedang terjadi saat ini. Kenaikan permukaan air laut menurut satelite data NASA mengalami peningkatan sekitar 3.3 mm setiap tahunnya. Kenaikan tersebut ada hubungannya dengan perubahan iklim global atau pemanasan global yang sedang terjadi di muka bumi ini.



kenaikan permukaan air laut
Kenaikan permukaan air laut - climate.nasa.gov



Peningkatan permukaan air laut yang terus berlangsung dari tahun ke tahun pastinya bisa membawa dampak buruk bagi kehidupan kita. Apa saja dampaknya yang sudah dirasakan saat ini?

🍀 Peningkatan Suhu Permukaan Laut

Perubahan iklim yang terjadi menyebabkan suhu permukaan laut menjadi lebih tinggi sehingga sirkulasi massa air di kutub menuju daerah tropis menjadi lebih besar. Hal ini terjadi akibat efek rumah kaca sehingga bumi menjadi lebih hangat dan menyebabkan pemanasan global.
kenaikan suhu


Meningkatnya suhu udara juga dialami oleh suhu di lautan. Menurut penelitian yang tercantum pada jurnal Avances in Atmospheric Sciences pada Januari 2020 suhu permukaan laut global mengalami kenaikan 0,075 derajat celcius.


🍀 Terjadi Penurunan Permukaan Tanah

Penurunan permukaan tanah di sekitar pesisir atau daerah dekat laut terjadi karena adanya perubahan struktur tanah yang disebabkan oleh aktivitas manusia atau industri sekitar pantai yang membuang sampah atau limbah ke dalam laut. Kemudian air laut tersebut akan masuk ke dalam tanah dan menjadikan air tanah berubah rasa menjadi asin.

🍀 Garis Pantai Lebih Menjorok

Beberapa tempat di Pantura mengalami garis pantai yang menjorok dari laut menuju darat. Jadi, pantainya ini bergeser. Dulunya daratan karena adanya peningkatan air laut maka saat ini daratan tersebut menjadi genangan air laut. Bayangkan saja sejauh 2.3 KM air laut menjorok ke daratan dalam waktu 30 tahun.

🍀 Terjadi Rob atau Banjir 

Naiknya permukaan laut dan peningkatan suhu permukaan laut bisa menimbulkan terjadinya rob. Sebenarnya hal ini bisa diatasi kalau daratan memiliki drainase yang baik ketika sirkulasi massa air menuju daratan datang menerjang.  Salah satu daerah yang langganan terkena banjir Rob yang saya ketahui ada di Semarang. Saya sempat melintasi wilayah tersebut, rumah-rumahnya semua dibangun lebih tinggi lagi untuk mengantisipasi banjir tersebut.

Kenaikan permukaan air laut yang disebabkan oleh pemanasan global ada tiga faktor, yaitu:
  • Ekspansi Termal
  • Merasakan gak kalau suhu bumi ini semakin memanas? Nah, suhu yang memanas ini membuat air laut akan memuai sehingga air tersebut membutuhkan ruang yang lebih banyak dan mengakibatkan tingginya permukaan air laut dan beberapa pantai tertutup pula dengan air laut saat ini.
  • Melelehnya gletser dan tudung es kutub
  • Kenaikan suhu yang disebabkan oleh pemanasan global menyebabkan melelehnya gletser dan tudung es di kutub. Tidak hanya itu saja, pemanasan global juga berakibat adanya ketidak seimbangan datangnya musim. Misalnya pada musim dingin salju yang turun lebih sedikit dan sebaliknya pencairan salju lebih besar ketika musim panas
  • Hilangnya es di Greenland dan Antartika Barat
  • Lapisan es yang berada di Greenland dan Antartika Barat pun meleleh lebih cepat dan merembes di bagian bawah lapisannya.

Agar dampak negatif kenaikan permukaan air laut tidak terus menurun, pemerintah bekerja sama dengan para penggiat lingkungan pun terus mengupayakan beberapa perbaikan dan tindakan pencegahan dalam menjaga laut Indonesia. Diantara cara yang harus dilakukan agar laut tetap terjaga adalah dengan rehabilitasi mangrove serta tidak mengeksploitasi laut. Sedangkan untuk sektor pariwisata laut, hal yang perlu diperbaiki adalah polusi serta pencemaran bahan bakar perahu boat yang dibuang ke laut.

Jaga Laut Mulai Dari Diri Sendiri


Pandemi memang belum berakhir, namun pemerintah sudah menerapkan Tatanan Kehidupan Baru atau New Normal otomatis industri dan pariwisata pun mulai bangkit kembali secara perlahan dengan menerapkan protokol kesehatan yang berlaku.

Selama 3 bulan terakhir laut beristirahat, di era New Normal ini harusnya sih tetap bisa seperti itu keadaannya asalkan ada kesadaran masing-masing dari tiap orang untuk menjaga lingkungan termasuk laut.

Bukan cuma manusia saja yang harus dijaga kesehatannya selama pandemi ini, laut pun punya hak untuk sehat karena laut adalah penyedia oksigen untuk kita hirup serta dianggap sebagai paru-paru bumi selain pohon. Dari laut ini juga menghasilkan sumber bahan makanan dan pengobatan penting yang bermanfaat bagi kehidupan umat manusia. Lautan juga bertugas mengatur iklim kita.

Pihak terkait dalam hal ini pengelola pariwisata membantu memantau pengunjung supaya tidak mengganggu alam melalui patroli maupun bantuan dari kader wisata yang ikut menegur para wisatawan nakal. 

Kita sendiri juga seharusnya sadar dan bisa menjaga laut mulai dari diri sendiri dengan melakukan hal-hal berikut ini :

jaga laut


🌸 Menjaga Kebersihan

Sudah seharusnya menjaga kebersihan ketika berada di mana pun, baik di rumah, lingkungan maupun ketika berada di laut dan pantai. 

Malu rasanya ketika mengetahui kalau Indonesia itu sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia. Mereka tidak tahu sampah yang dibuang ke sungai tersebut nantinya akan mengalir ke laut dan mencemari laut serta biota yang ada di dalamnya.

Perlu diingat bahwa laut itu bukan tempat sampah besar yang bisa me-recovery dirinya sendiri, namun perlu dibantu oleh manusia. 

Hal real yang perlu dibiasakan adalah membawa tempat sampah sendiri kemana pun termasuk saat wisata ke laut misalnya, untuk berjaga-jaga ada sampah yang perlu dibuang. Buang sampah pada tempatnya, klise banget ini tapi nyatanya masih banyak yang lalai. Gak usah lihat orang lain, mulai aja dari diri sendiri.

🌸 Membawa Tempat Makan dan Minum 

Untuk meminimalkan sampah, lebih baik kita membawa tempat makan dan tempat minum sendiri yang sudah terisi pastinya. Selain itu dengan membawa bekal sendiri kebersihan dan kesehatan pun lebih terjamin, apalagi di masa pandemi seperti ini.

Dengan membawa tempat makan sendiri juga ikut serta dalam melakukan diet plastik dan tidak menambah jumlah sampah plastik di lautan.

🌸 Jaga Sikap Terhadap Biota Laut

Ketika berkunjung ke pantai atau laut, terlebih jika kamu suka snorkeling atau diving sebaiknya tetap menjaga kelestarian biota laut yang ada. Jangan menyentuh terumbu karang walaupun itu terlihat indah karena akan membuat perubahan warna pada terumbu karang tersebut bahkan bisa mati. Begitu pula jika melihat biota laut gak usahlah untuk ditangkap dan memeliharanya apalagi jika itu hewan yang hampir punah.

Menjaga biota laut juga termasuk ketika mengonsumsi makanan laut dari hasil budi daya bukan dari hasil tangkapan liar di laut. Hal tersebut dilakukan agar tetap menjaga jumlah biota laut yang ada saat ini.

🌸 Tidak Hanya Berwisata Tapi Juga Jadi Sukarelawan

Jangan hanya menikmati keindahan laut saja, tapi tidak memberikan apapun untuknya. Sesekali boleh lah menjadi sukarelawan misalnya dengan memunguti sampah-sampah yang ada di sekitar pantai supaya orang lain juga sadar untuk menjaga kebersihan.

Beberapa kali saya berwisata ke tempat mangrove ingin sekali merasakan menanam mangrove di sana. Apalagi Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai hutan mangrove terbesar di dunia pastinya bermanfaat bagi lingkungan dan penduduk sekitar. Penanaman mangrove di sini dilakukan dengan tujuan untuk mencegah erosi dan abrasi pantai akibat ombak laut.

mangrove

Yuk, di mulai dari diri sendiri #JagaLaut untuk keberlangsungan laut itu sendiri dan kehidupan manusia sehingga bisa membuat udara menjadi bersih dan melindungi kita dari dampak buruk perubahan iklim. Dengan peran kecil kita dapat membuat perubahan besar pula untuk Indonesia dan mengubah pandangan dunia sebagai negara penyumbang sampah plastik terbesar.

Jangan meminta orang lain untuk melakukan ini itu yang berkaitan dengan lingkungan, tapi beri contoh dari diri kita sendiri - Hamish Daud


Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog "Perubahan Iklim" yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini 



referensi :
https://www.idntimes.com/science/discovery/nena-zakiah-1/bahaya-kenaikan-permukaan-air-laut/7
https://foresteract.com/pemanasan-global/
https://ilmugeografi.com/bencana-alam/banjir-rob
https://www.merdeka.com/jateng/7-fakta-banjir-rob-semarang-sebabkan-tanah-turun-15-cm-per-tahun.html
https://blog.ruangguru.com/hari-maritim-nasional-5-langkah-untuk-menjaga-laut-indonesia
https://sains.kompas.com/read/2019/03/04/183300723/salah-manusia-inilah-9-ancaman-terbesar-yang-dihadapi-laut-dan-isinya
https://tirto.id/penyebab-perubahan-iklim-fakta-dan-solusinya-emYU
http://pkml.uad.ac.id/materi-perubahan-iklim-untuk-remaja/

39 comments

  1. Yuk..Yuk jaga laut, ga hanya menikmati keindahan alamnya aja ya Mba Lid. Semoga masyarakat makin banyak yang sadar betapa pentingnya menjaga kelestarian alam khususnya menjaga laut ini, apalagi sekarang yang sudah mulai buka tempat2 wisata pantai. Semoga kita semua bisa saling menjaga kebersihan satu sama lain.

    jadi kapan kita ka Laut maeen?

    ReplyDelete
    Replies
    1. menjaga lingkungan di mana pun ya teh gak cuma di laut, soalnya nanti berpengaruh ke sana

      Delete
  2. Aku paling senang dengan laut nih, berasa adem banget kayaknya kalau main ke laut ya. Nah, bener nih langkah kecil untuk menjaga laut itu bisa mulai dari kita sendiri dan ditularkan kepada yang lainnya juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya mulai aja kita duluan sambil jalan mereka juga mengikuti kalau tau ya

      Delete
  3. Jadi kangen laut dan pantai nih Mak baca postnya, apalagi Belitung waduh langitnya biru, pantainya jernih. Siap Mak, setuju sama tipsnya untuk menjaga kebersihan mulai dari tidak buang samoah sembarnagan di pantai dan lainnya. Ngeri emang kecepatan kenaikan permukaan air laut, huhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. jaga kebersihan di mana pun ya, apalagi skr ada diet kantong plastik juga

      Delete
  4. Akutu dari pagi, gagal pokus sama outfit di pantai yang gonjreenk, kereen jadi tampak cerah ceriaa, eaaa

    ReplyDelete
  5. Long time no sea! Rindus sekali sama laut. Kalau ternyata pandemi membuat dampak positif untuk Laut, aku masih sangat menahan sabarku demi kebaikan kelautan Kita.

    Semoga pandemi berangsur menghilang sehingga rindu kita pada laut segera bertemu ya, Mak.

    ReplyDelete
  6. Semua hal sedang istirahat termasuk laut. Aku suka laut. Tapi ini, selama pandemi sudah bertahan buat gak ke laut. Kalau ke sana juga bawa bekal dan sampah bawa pulang

    ReplyDelete
  7. Ngeri ya mbak kalau lihat dampak negatif dari pemanasan global. Memang untuk melestarikan laut dan ekosistemnya harus dimulai dari diri sendiri, karena kita suka abai terhadap sampah disekitar yang dampaknya sangat buruk bisa menimbulkan pencemaran lingkungan dan rusaknya ekosistem. Jadi kangen ke mangrove....

    ReplyDelete
  8. Setuju sekali dengan kiat2 yang MBak Lidya sebutkam di atas. Paling mudah aja menjaga kebersihan laut dengan tidak membuang sampah sembarangan. Membawa tempat bekal makanan dan minuman juga harus menjadi kebiasaan sehari2 :) Kayaknya seru juga ya menjadi sukarelawan penanaman mangrove maupun tanaman lain. Sekalian wisata yang berbobot.

    ReplyDelete
  9. pernah aku ke laut di tangerang, ya ampun kotor banget, sampah buanyaaakkk bgt, sampai ada kasur terombang-ambing segala, pantainya pun jadi bau sampah

    ReplyDelete
  10. Rob. Duh..sedih membaca ini. Kota kami adalah salah satu yg terkena dampak rob, karena penurunan muka air tanah dan kenaikan muka air laut. Hiks..

    ReplyDelete
  11. setuju sekalid engan semua yang mbak Lidya sebutkan di atas, saya sekarang terbiasa membawa makanan dan minuman sendiri juga tas sendiri untuk mengurangi sampah

    ReplyDelete
  12. Aksi kecil tapi punya dampak besar untuk ekosistem laut kita ya mbak.. jadi jika bukan dari diri sendiri, dari siapa coba.. InshaAllah dengan dimulai dari hal kecil dan dimulai dari diri sendiri maka orang lain juga akan mengikutinya ya mbak

    ReplyDelete
  13. Waduh, gazebo di pingir pantai kok bisa jadi pindah ke tengah laut gitu yah. Parah juga siiih. Butuh kesadaran dari kita semua untuk menjaga laut tercinta yah mbaaak, suka sedih kalo melihat sampah yang berserakan

    ReplyDelete
  14. Sudah selayaknya ya kita menjaga laut tetap asri dan terjaga ekologinya sebagaimanamestinya, bukan malah sebaliknya. Yang utama adalah menjaga kebersihan dengan tdak membuang sampah sembarangan..

    ReplyDelete
  15. betul banget ya mba, mulai dari kita, terlepas tinggal di kota atau di gunung, tapi pada akhirnya sampah yang dibuang sembarangan ke sungai akan sampai juga ke laut ya mba.

    ReplyDelete
  16. Aapaah? Itu gazebo tadinya pingir pantai? masyaallah, Segitu udah parah ya laut kita. Aku lagi rutin ngajarin anak-anak sesimple ga buang sampah sembarangan deh. Dan belajar mengurangi sampah juga.

    ReplyDelete
  17. Ngeri juga ya efek rumah kaca, es di kutub udah pada mulai berkurang volumenya. Kebayang deh segitu banyaknya mencair dan memenuhi dunia. Huhuuu pantesan aja laut makin menjorok ke tanah ya. Harus segera melakukan langkah nyata untuk mengurangi pergerakan abrasi ini deh.

    ReplyDelete
  18. Iya waktu ke mangrove Pekalongan banyak rumah tepi pantai hancur ternyata karena air laut naik dan penghuninya terpaksa mengungsi..sedih..

    ReplyDelete
  19. Greenland dan kutub meleleh, kejadian yang sudah diingatkan melalui film Ice Age yaa, kak.
    Manusia-manusianya yang masih abai. Termasuk aku yang masih menggunakan plastik dalam kehidupan sehari-hari.
    Heuheuu~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Paling suka lihat laut dan mendengarkan senandung alamnya.
      Sekaligus paling kesel kalau di tempat wisata mulai banyak sampah.
      Semoga dengan mengganti gaya hidup yang lebih ramah lingkungan dengan diet kantong plastik.

      Delete
  20. Pandemi nih memang bisa buat linkungan jadi bersih secara natural ya, Mba. Mungkin beginilah cara Allah membersihkan duniaNya. Dunia yang Ia ciptakan untuk ditempati manusia, tapi dirusak oleh manusia itu sendiri. Begini laah kalau kita ngontrak sama Allah, tidak punya rasa kepemilikan jadi semaunya aja. Yuk ah kalau sudah lewat masa pandemi kita haru jaga lingkungan laut kita seperti menjaga kebersihan rumah sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju. Selepas pandemi ini kita punya banyak PR untuk memperbaiki lingkungan. Jangan sampai ditegur lagi oleh Si Empunya bumi lagi yaaa...

      Delete
  21. Iya nih, mesti mulai aware sama kondisi laut jugq yaah... Aku bbrp kali ke Pantai Maron miris liat sampah2nya, ngeri bgt. Tapi di beberapa titik sudah ada inisiatif penanaman mangrove buat ngejaga ddaerwh pesisir biar ga abrasi dan banjir krn rob

    ReplyDelete
  22. Beberapa kali ke laut aku selalu bawa kantong sampah sendiri. Jadi buang sampah jangan sembarangan. Apalagi di laut. Kasian hewan lautnya :(

    ReplyDelete
  23. Semarang itu tiap tahun kabarnya daratan turun 12 cm gitu, namanya rob rutin dan ganggu banget. Meski itu juga efek perilaku manusia selama ini.

    Itu gazebo nya gemes banget di laut gitu, nongkrong kelamaan gak terasa kaki jadi 'medok'

    ReplyDelete
  24. nah, Bengkulu have so many beach. After read your post. I will be to fighting take care the beach from my self

    ReplyDelete
  25. Terima kasih sudah mengingatkan yaa mbak. Miris juga tiap kali lihat banyak sampah di laut :( Kalau lihat, ya udah deh pungut sebisanya. Kemarin pas ke pantai juga bawa bekal sendiri, selain lebih aman, juga gak bikin sampah selama di sana.

    Jadi, kapan mbaknya mainmain di lautnya Lombok sini?

    ReplyDelete
  26. Ini PR banget ya mbak...secara laut tuh masa depan kita...Perilaku kita di daratan juga berdampak ke lautan. Semangat menjaga laut...

    ReplyDelete
  27. Pandemi memang membawa banyak perubahan dalam hidup kita menjadi lebih baik dan peduli kesehatan ya.
    Aku tuh suka sedih kalau saat ke pantai-pantai tuh masih ada saja orang yang buang sampah sembarang. Setuju banget ya harus dari dimulai dari diri sendiri untuk mencintai laut Indonesia.

    ReplyDelete
  28. yah sedih banget ya mba Lid baca datanya itu hanya 13% saja yang dibiarkan alami..duh sedihnya karena aktifitas manusia juga ya mempengaruhi juga kondisi lautnya semoga bisa sadar dan menjaga laut

    ReplyDelete
  29. Saya tuh takut naik perahu jadi impian memungut sampah di laut sudah dikubur dalam-dalam. Untungnya saya tak pernah buang sampah sembarangan apalagi membuangnya langsung di laut. Kalau tidak bisa membantu secara nyata , memungut sampah setidaknya tidak ikut mengotori laut dan lingkungan

    ReplyDelete
  30. Yaa Allah Mbak itu serem amat ya, kalo gazebo yang dulunya di pantai jadi berada jauh di lautan gitu. Bisa habis pulaunya.

    ReplyDelete
  31. Aku baru tau kalau rob itu sama dengan banjir
    Yuk yuk jaga laut supaya ekosistem tetap seimbang dan hidup aman tenteram

    ReplyDelete
  32. Hooh ya ampun itu gazebo tetep ada dan gak dipindah ya berarti? Kebayang dulu di situ ada hamparan pantai dan banyak yg main di sana jg.
    BTW mbak td aku nonton video CNN kalau gak salah, selama pandemi ini jg ternyata muncul masalah baru yaitu laut jd pembuangan masker dan sampah medis lainnya hiks. Untung bnyk relawan yg masih peduli dan bantu bersihin sungai huhuhu

    ReplyDelete
  33. Huhu, suka sedih deh kalo jalan-jalan ke laut. Pasti aja nemu banyak sampah terapung. Gak buang sampah ini gak hanya saat ke laut aja ya. Gak buang sampah ke sungai juga termasuk menjaga laut. Soalnya, ujung dari sungai ini ya laut. Semoga laut bisa senantiasa terjaga kebersihan dan keindahannya.

    ReplyDelete
  34. Udah jelas banget, kalau kerusakan alam ini gara2 manusia yang nggak bisa mengendalikan diri. Terlalu tamak dan egois. Sedih aku tuh, krn masih banyak orang yang nggak peduli soal ini.

    ReplyDelete