Powered by Blogger.

PARARA 2019 Dukung 4 Prinsip Pangan Bijak

Ngakunya belum sarapan tapi sudah melahap habis ongol-ongol sagu 2 buah.  Padahal sama aja ya ini termasuk sarapan karena ongol-ongol terbuat dari sagu yaitu salah satu sumber karbohidrat juga.

Orang Indonesia memang identik sekali konsumsi nasi sebagai sumber koarbohidrat, padahal ada 77 jenis karbohidrat yang bisa dikonsumsi seperti tepung terigu, sagu, gaplek, jagung dan lainnya. 

Dari Badan Ketahanan Pangan juga menunjukkan bahwa Indonesia juga kaya akan sumber makanan lainnya seperti ada 75 jenis sumber minyak, 26 jenis kacang-kacangan, 389 buah-buahan, 228 jenis sayuran, serta 110 jenis rempah dan bumbu. Keanekaragaman sumber pangan tersebut diharapkan dapat mendukung pola makan gizi seimbang di masyarakat.


Bicara soal pangan di Indonesia, Sabtu (7/12) lalu di Atrium Plaza Semanggi saya menghadiri "Talkshow : Jadikan Pangan Bijak Gaya Hidupmu" pada event Panen Raya Nusantara 2019. Talkshow tersebut menghadirkan beberapa narasumber yaitu Ibu Miranda, Bapak Abdul Manan (Produsen Sagu dan Konservasi), Ibu Ulfa Yuniati (Pejuang dari Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia), Ibu Neni Rohaini (Komunitas), dan Ibu Maria Asti.



4 Prinsip Pangan Bijak


Ibu Miranda menjelaskan mengenai Pangan Bijak Nusantara yaitu sebuah gerakan yang mendukung perubahan konsumsi pangan melalui 4 prinsip untuk perubahan gaya hidup, prinsip tersebut antara yaitu Lokal, Sehat, Adil, dan Lestari.




Lokal 

Mengenalkan ragam pangan lokal yang bisa dikonsumsi oleh masyarakat. Banyaknya aneka pangan lokal seharusnya dapat mencegah stunting di Indonesia.


Sehat

Jenis makanan yang dikonsumsi haruslah sehat dengan cara pengolahan yang higienis dan bernutrisi. Tidak menggunakan bahan pengawet dan bahan kimia yang dapat membahayakan kesehatan tubuh. Di Indonesia mempunyai bahan pengawet alami yang aman digunakan.


Adil

Bahan pangan yang ada di Indonesia itu harus adil bagi semua baik untuk konsumen maupun produsennya. Konsumen harus sanggup membelinya, jangan hanya orang tertentu saja. Begitu pula dengan produsennya harus sejahtera. Adil pun berlaku bagi lingkungan dengan menjaga kelestariannya.


Lestari

Cara memproduksi pangan juga harus memperhatikan lingkungan, karena kedepannya untuk warisan anak cucu. 

Pangan bijak ini digalakan untuk menciptakan kesejahteraan ekonomi dan mengurangi kemiskinan di Indonesia secara sustainable.


Untuk menggalakan pangan bijak haruslah ada kerjasama antara pemerintah dan masyarakat termasuk media, universitas, komunitas dan lainnya agar dapat diajak untuk berkoordinasi dan membuat sistem pangan bijak berkelanjutan.


Tentang PARARA


Festival Panen Raya Nusantara (PARARA) 2019 mempunyai tujuan mendorong konsumsi pangan lokal nusantara sebagai kontribusi terhadap pengentasan kemiskinan di Indonesia.

Festival PARARA ini merupakan event yang digelar setiap dua tahun sekali ini mempunyai latar belakang mempromosikan produk lokal yanbg sehat, adil, dan lestari.  PARARA 2019 adalah untuk yang ketiga kalinya. PARARA yang pertama diadakan pada tahun 2015 di Lapangan Banteng, dan tahun 2017 di Taman Menteng.

Pangan bijak diharapkan dapat mengurangi angka stunting akibat kemiskinan dan membantu mereka yang menderita obesitas karena konsumsi makanan yang tidak sehat.

PARARA 2019 tahun ini hadir di Atrium Plaza Semanggi mulai tanggal 6 - 8 Desember 2019 lalu. Berbagai produk pangan bijak, hasil kerajinan non kayu, dan produk lokal digelar pada booth-booth yang sudah disediakan. Produk yang dihadirkan di sini berasal dari berbagai komunitas dan masyarakat adat untuk mendukung kehidupan dan meningkatkan kesejahteraan dengan memperhatikan keseimbangan antara alam dan manusial.



Dengan slogan "Jaga Tradisi, Rawat Bumi" PARARA ingin menunjukkan kearifan leluhur bangsa Indonesia  yang dapat memanfaatkan sumber daya alam secara lestari dan memperhtakankan alam sebagai bagian dari kehidupan komunitas dan bumi.



Produk lokal Indonesia mempunyai milai dan potensi pasar yang tinggi di dunia, salah satunya adalah kain tenun. Maka dari itu diperkukan perhatian untuk menjaga dan melestarikan produk lokal tersebut.

Pada event PARARA ini tidak hanya menghadirkan booth yang menjual produk lokal tapi juga berbagai kegiatan digelar untuk masyarakat seperti talkshow, coacing clinic, dan jamuan PARARA.

No comments