Ada Lelah yang Tidak Bisa Dijelaskan dengan Kata
Ada jenis lelah yang tidak bisa dijelaskan dengan keluhan. Lelah yang tidak butuh solusi, hanya butuh diakui. Di momen seperti itu, perhatian kecil sering kali terasa jauh lebih bermakna daripada kata-kata panjang. Bagi saya, perhatian itu datang dalam bentuk yang sederhana: bunga.
Bukan karena bunganya mahal atau istimewa. Tapi karena di saat tubuh dan hati sama-sama lelah, bunga hadir tanpa tuntutan. Diam, tapi terasa. Sejak saat itu, saya semakin percaya bahwa bunga adalah bahasa paling jujur untuk mengapresiasi sebuah perjalanan.
Berlari Sore Hari, Mengejar Sunset dan Diri Sendiri
Beberapa hari lalu, saya mengikuti event lari WMNLYFE di Land’s End, PIK 2. Tidak seperti kebanyakan race yang diadakan pagi hari, event ini justru berlangsung sore menjelang matahari terbenam. Namanya WMN Sunsweat Party lari sambil mengejar sunset.
Sore itu panas. Matahari masih terasa menyengat, meski langit mulai berubah warna. Ada rasa antusias, tapi juga ada kesadaran bahwa kondisi hari itu tidak ideal. Namun justru di situlah keunikannya. Kami berlari bukan hanya melawan waktu, tapi juga melawan diri sendiri.
Saya datang dengan satu target pribadi: PB 5K di kisaran 26–27 menit. Target yang sudah lama ingin saya capai. Target yang diam-diam saya simpan sebagai pembuktian pada diri sendiri.
Ketika Ambisi Tidak Sejalan dengan Tubuh
Masalahnya, sejak pagi hingga siang hari saya sudah mengikuti event mini HYROX. Aktivitas yang benar-benar menguras tenaga. Awalnya saya berpikir tubuh masih bisa diajak kompromi. Tapi ternyata, energi tidak bisa dibohongi.
Target mulai saya turunkan. Dari 27 menit menjadi 30 menit. Lalu, sesampainya di lokasi, saya kembali menurunkan ekspektasi. Saya berkata pada diri sendiri, listen to your body. Tidak perlu terlalu ambisius jika akhirnya harus membayar dengan kelelahan yang berlebihan.
Hari itu saya belajar satu hal penting: mengikuti satu event olahraga dalam satu hari saja sudah cukup. Jangan menggandakan beban jika ingin tetap menikmati prosesnya. Entah karena sudah terlalu lelah, atau karena cuaca sore yang panas menyengat, lari hari itu terasa jauh lebih berat dari biasanya.
Gagal PB, Tapi Pulang dengan Pelajaran
Saya tidak mencapai target waktu. Bahkan mendekati finish, saya sudah tidak lagi memikirkan angka. Saya hanya ingin menyelesaikan apa yang sudah saya mulai.
Dan tepat di momen itulah, sesuatu yang sederhana terjadi.
Saat mendekati garis finish, seseorang memberikan saya bunga. Tidak besar. Tidak berlebihan. Tapi rasanya hangat sekali. Di tengah panas matahari, keringat, dan napas yang belum stabil, bunga itu seperti berkata, “Kamu sudah sampai.”
Sekejap, rasa capek itu terasa berkurang. Bukan karena tubuh tiba-tiba segar, tapi karena hati merasa dihargai.
Mengapa Setangkai Bunga Bisa Berarti Banyak
Mungkin bagi orang yang tidak terlalu menyukai bunga, ini terlihat biasa saja. Tapi bagi kami terutama di race khusus perempuan perhatian kecil seperti ini terasa sangat berarti. Bunga menjadi simbol apresiasi, bukan karena menang, tapi karena sudah berani hadir dan menyelesaikan.
Di hari yang panas, di lintasan outdoor, dengan kondisi tubuh yang tidak prima, bunga menjadi penutup yang manis. Entah siapa yang punya ide memberikan bunga di garis finish itu, tapi sungguh… terima kasih. Hari itu saya pulang tanpa PB, tapi dengan perasaan yang jauh lebih penuh.
Pengalaman ini membuat saya kembali sadar bahwa bunga bukan hanya soal romantis. Bunga adalah bahasa apresiasi. Ia hadir ketika kata-kata terasa terlalu berat atau tidak cukup.
Bunga, Perjalanan, dan Anniversary yang Tidak Terasa
Kebetulan, bulan Februari ini saya juga merayakan anniversary pernikahan. Tidak terasa, tahun demi tahun terus bertambah. Waktu berjalan begitu cepat. Kami bukan pasangan yang sangat romantis. Tidak selalu merayakan dengan sesuatu yang besar.
Tapi rasanya tidak ada salahnya sesekali berhenti, menengok ke belakang, dan berkata, “Kita sudah sejauh ini.”
Buket bunga di momen anniversary bukan soal kemewahan. Tapi tentang perhatian. Tentang usaha kecil untuk menghargai perjalanan bersama di tengah rutinitas, kesibukan, dan hari-hari yang berjalan begitu saja.
Toko Buket Bunga dan Cerita di Baliknya
Dari pengalaman lari hingga momen pribadi, saya semakin percaya bahwa toko buket bunga bukan sekadar tempat membeli rangkaian bunga. Ia adalah perantara rasa. Tempat di mana apresiasi diterjemahkan menjadi sesuatu yang bisa dirasakan.
Di sinilah peran florist Jakarta Selatan menjadi penting bukan hanya merangkai bunga, tapi memahami bahwa setiap momen punya cerita berbeda.
Jika kamu sedang mencari toko buket bunga untuk momen spesial, Athaya bisa menjadi pilihan. Athaya menyediakan berbagai rangkaian seperti buket bunga, bunga meja, standing flower, hingga parcel dan hampers yang bisa disesuaikan dengan momen yang ingin dirayakan.
Athaya melayani area Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, hingga Bandung, memudahkan siapa pun yang ingin mengirimkan perhatian dalam bentuk bunga tanpa ribet.
Karena seperti yang saya pelajari di garis finish sore itu, perhatian kecil bisa membawa makna besar. Dan bunga, dengan caranya yang sederhana, selalu berhasil hadir di waktu yang tepat.
Untuk inspirasi bunga dan hampers sesuai momen, kamu bisa mengunjungi Instagram @athayacoid.
Karena setiap momen—lelah, bahagia, dan penuh syukur selalu layak diapresiasi dengan bunga

.jpeg)






0 Comments