Powered by Blogger.

Mengatasi Obesitas Pada Anak

Kalau lihat anak kecil yang ndut, saya langsung teringat dengan tokoh film kartun Clarence Wendle. Sukanya pakai baju warna hijau dan celana biru, membuat dia makin menggemaskan. Clarence yang berusia 10 tahun ini memang mempunyai berat badan yang berlebih tapi dia selalu bersemangat dan percaya diri untuk memecahkan semua masalah yang dihadapi bersama teman-temannya.

http://boomerang-from-cartoon-network.wikia.com/wiki/Clarence


Ngomongin anak yang "ndut", sebenarnya kita sebagai orangtua harus waspada karena rentan sekali mengalami obesitas. Anak yang memiliki masalah obesitas tidak selamanya bisa percaya diri seperti Clarence, karena mereka akan cenderung malu akan dirinya sendiri dan memiliki masalah gangguan emosi. Untuk itu yuk kita cari tahu cara mengatasinya.


Hari Jum'at 3 Agustus 2018 saya menghadiri Media Gathering RS Royal Progress yang berlokasi di Up In Smoke Restaurant, RDTX Tower, Jakarta dengan tema mengenai Obesitas Pada Anak dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional yang jatuh pada 23 Juli lalu.

Pada kesempatan tersebut hadir beberapa orang narasumber yang berkaitan dengan obesitas dr Lucie Permana Sari, SpA, Dr.dr. Rika Haryono SpKO, Psikolog Nadia Rachaman M.Psi, dan dr. Pulina Toding, M. Gizi SpGK.

Obesitas adalah Penumpukan lemak tubuh yang berlebihan sehingga berat badan seseoran jauh di atas normal.

Obesitas bisa terjadi pada orang dewasa juga anak-anak, terjadi karena berlebihnya asupan energi daripada energi yang dikeluarkan. Nah, bahayanya obestias pada anak akan berisiko tinggi saat dewasa akan mengalami penyakit degeneratif.

Penyebab obesitas terjadi karena faktor lingkungan, pola makan, perilaku makanan, dan faktor genetik.




Mengatasi Obesitas Pada Anak



Kalau orang dewasa sih lebih mudah dalam menurunkan berat badan dengan mengurangi makanan tertentu. Tapi pada anak-anak dalam masa pertumbuhan gak bisa seperti itu karena mereka juga masih membutuhkan asupan-asupan nutrisi yang penting. Lalu menanganinya seperti apa?

Mengontrol Berat Badan dan Mengurangi IMT (Indek Massa Tubuh)


Kontrol berat badannya tiap bulan dengan rutin menimbang anak dan memantau IMT. Untuk mengurangi berat badannya bisa mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang. Mengurangi makanan tinggi lemak dan gula. Perbanyak konsumsi buah dan sayur untuk memperbanya serat.

Penurunan berat bada anak obesitas sesuai dengan jumlah kelebihan berat badannya, tetapi dilakukan tidak secara ekstrim. target penurunan beratnya melalaui habit atau kebiasaan sehingga berat badannya turun sesuai dengan usianya.

Ajak Anak berlatih dan bergerak


Di jaman teknologi digital seperti saat ini, pastinya anak sudah tidak asing lagi dengan gadget dan televisi. Tidak ada larangan dalam penggunaannya, toh mereka juga butuh update informasi agar tidak ketinggalan. Namun, perlu pembatasan dalam menggunakannya.

Ajak anak bermain yang memerlukan gerakan seperti bermain bola atau berenang. Pokoknya jangan hanya duduk sambil bermain gadget saja.

Pada anak obesitas dilakukan latihan fisik dengan penanganan special yang diawasi oleh dokter selama 3-5 kali per minggu dengan intensitas sedang dalam waktu 30 menit hingga 1 jam berupa aeroboc utnuk melatih kekuatan otot dna kelentukannya. Dokter Rika mengatakan suapaya anak tidak bosan saat melakukan aktivitas fisik harus dilakukan dalam bentuk permainan.

Dukungan keluarga


Anak yang mengalami obesitas akan merasa minder dan kurang percaya diri karena adaya gangguan sosial emosi pada dirinya. Mereka merasa malu akan tubuhnya yang berbeda dengan teman-temannya dan bahkan dijadikan bahan ejekan.

Munculnya emosi sebagai respon suatu kejadian baik dalam hal positif maupun negatif. Emosi dapat diartikan sebagai perasaan misalnya marah, takut, sedih, bahagia.

Menurut Psikolog Nadia Rachman gangguan emosi pada anak obesitas terjadi ketika dia sedang sedih dan memisahkan diri dari lingkungannya sehingga timbul rasa lapar yang berlebihan untuk mengatasi masalahnya.

Anak obesitas yang berusia 10-17 tahun berisiko dua kali lipat dapat menimbukan masalah kesehatan fisik dan mental serta ketidakmampuan belajar.

Orangtua bisa memberikan kesempatan anak dalam mengembangkan kemampuannya sesuai minat dan jangan lupa memebrikan pujian padanya setelah melakukan hal yang baik.


Sajian Menu Sehat Untuk Anak Obesitas


Chef Ferdi juga mendemokan cara membuat makanan sehat untuk anak obesitas  yaitu roti gulung roghurt sayur dan setak tempe. Dokter Paulina Toding juga menjelaskan kalori yang terkandung dari masing-masing makanan tersebut.




Anak obesitas harus tetap diperhatikan tumbuh kembangnya bukan menurunkan kalorinya


Rumah Sakit Royal Progress


Oh ya semua nara sumber yang hadir pada gathering adalah dokter-dokter yang bertugas di Rumah Sakit Royal Progress, Sunter, Jakarta.

Bapak Aditya Budi dari Royal Progress menjelaskan keberadan RS Royal Progress sebagai salah satu RS Jakarta Utara yang awalnya melayani komunitas di daerah Sunter dan merupakan bagian dari Progress Grup.

Dulunya, masyarakat yang tinggal di lingkungan ini kalau ke rumah sakit harus ke luar lingkungan yang jaraknya cukup jauh. Tapi, sejak ada rumah sakit Royal Progress yang dulunya bernama Medika Griya mereka sangat terbantu sekali.

RS Royal Progress adalah rumah sakit swasta pertama yang berkomintmen bakti sosial yang menangani katarak dan rumah sakit sawasta pertama yang menerima dan melayani GAKIN.

RS Royal Progress mempunyai beberapa klinik khusus diantaranya klinik wanita yang terdiri dari klinik anak, dermatology, aesthetic centre. Selain itu juga ada Royal Sleep Institue, Royal Family Eye Center dan Royal Sport Medical Center sebagai official partner PSSI.






2 comments

  1. Dokter dan narsumnya bagus banget ya memjelaskannya

    ReplyDelete
  2. Rumah sakitnya di dekat rumahku. Dulu mamaku juga pernah operasi dan rawat inap di sini. Pakai BPJS lagi. Gak sabar aku mau coba medical check up di sini :)

    ReplyDelete