Powered by Blogger.

Tradisi Ngadulag Yang Mulai Menghilang

Saat saya kecil dulu di rumah kakek nenek ada yang namanya tradisi ngadulag bila bulan ramadhan tiba. Ngadulag yang berasal dari bahasa Sunda ini berarti "menabuh bedug". Tidak hanya saat ramadhan tiba sih sebenarnya. Dulu sebelum adzan berkumandang biasanya akan ada suara bedug yang dijadikan penanda waktu sholat sudah masuk.

Yang paling ditunggu anak-anak adalah saat selesai shalat tarawih, mereka akan bergantian menabuh bedug. Ramai sekali rasanya saat itu, sayang sekali tradisi tersebut saat ini sudah tidak ada lagi di daerah tempat kelahiran saya.

Buat yang belum tahu bedug adalah sebuah alat musik seperti gendang namun berukuran besar, biasanya terbuat dari kayu besar yang tengahnya diberi bolongan dan ditutup oleh selembar kulit binatang seperti sapi dan lainnya. Tapi ada pula yang terbuat dari drum besar yang diberi kulit juga.

Di saat malam takbiran juga terkadang ada takbiran keliling yang di iringi tabuhan bedug dan anak-anak yang membawa obor. Sayang sekali di kota besar saat ini sudah tidak ada lagi kegiatan macam ini karena kebanyakan mereka mudik ke kota kelahiran masing-masing.

Memang masih ada sih di beberapa tempat tradisi memukul bedug biasanya sih jika ada event tertentu, misalnya parade bedug. Bahkan ada juga pameran bedug terbesar.

Sekilas menabuh bedug mudah tapi ternyata diperlukan teknik khusus untuk menabuhnya. Saya sih asal saja saat menabuh sehingga tidak ada iramanya jadilah tidak enak di dengar :).

Untuk anak-anak sekarang pun sepertinya melihat bedug adalah hal yang baru. Begitu pula saat lebaran kemarin anak-anak berkunjung ke rumah buyutnya. Di mesjid terdekat masih ada bedug, karena penasaran mereka pun mencoba untuk menabuh bedug tersebut. Mereka bilang mirip gendang.

Mereka excitied sekali saat menabuh bedug, maklumlah keduanya baru pertama kali melihat bedug dan merasakan menabuhnya. Jadi kangen sekali dengan tradisi ngadulag saat saya kecil dulu.

No comments